Dalam dunia kerja yang penuh tekanan dan kompetisi, keinginan untuk mendapatkan pengakuan atau persetujuan dari orang lain adalah hal yang wajar. Namun, ketika kebutuhan tersebut berubah menjadi kebiasaan berlebihan yang disebut approval seeking, hal ini dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik secara psikologis maupun terhadap perkembangan karier seseorang. Fenomena ini semakin sering ditemui di lingkungan kerja modern, terutama pada generasi muda dan profesional yang masih membangun kepercayaan diri.
Approval seeking adalah kecenderungan seseorang untuk terus-menerus mencari validasi eksternal—baik dari atasan, rekan kerja, maupun lingkungan sekitar—sebagai dasar penentu nilai diri. Alih-alih mengandalkan kemampuan dan keputusan pribadi, mereka akan merasa cemas, ragu, dan takut mengambil langkah tanpa mendapatkan persetujuan terlebih dahulu.
Sayangnya, kebiasaan ini mungkin tidak disadari hingga mulai memengaruhi kesehatan mental dan performa profesional. Berikut adalah lima dampak psikologis kebiasaan approval seeking dalam dunia karier yang perlu diwaspadai.
Seseorang yang terjebak dalam kebiasaan approval seeking akan cenderung menilai dirinya berdasarkan opini orang lain. Ketika tidak mendapatkan pujian atau pengakuan, ia dapat merasa tidak cukup baik, tidak kompeten, bahkan tidak layak. Lama-kelamaan, hal ini menurunkan rasa percaya diri dan merusak self-esteem.
Alih-alih berkembang, seseorang justru menjadi takut mengambil peran penting atau mencoba hal baru karena khawatir akan kritik. Padahal, rasa percaya diri adalah aspek utama dalam percepatan karier dan pencapaian profesional.
Selalu berusaha menyenangkan semua orang adalah tugas yang mustahil. Ketika ekspektasi orang lain menjadi prioritas utama, seseorang dapat mengalami stres berat, kecemasan sosial, dan bahkan burnout. Beban mental meningkat karena pikiran terus dipenuhi kekhawatiran seperti:
Kecemasan ini membuat seseorang tidak bisa fokus, sulit mengambil keputusan, dan bekerja dalam tekanan internal yang konstan.
Approval seeker cenderung berkata ya pada semua permintaan karena takut dianggap tidak kooperatif. Akibatnya, mereka sering kewalahan dengan pekerjaan berlebih, kehilangan waktu pribadi, dan mengorbankan kebutuhan diri.
Dalam jangka panjang, hal ini membuat seseorang gagal menetapkan batasan profesional yang sehat, sehingga rentan dimanfaatkan dan tidak mendapatkan keseimbangan hidup (work-life balance) yang seharusnya.
Meskipun terlihat bekerja keras, orang yang bergantung pada validasi eksternal cenderung tidak fokus pada hasil terbaik. Energi mereka habis untuk membangun citra dan membuktikan diri, bukan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan. Keputusan sering menjadi lambat karena terlalu banyak mencari persetujuan dari banyak pihak.
Ketika kemampuan independen tidak berkembang, hal ini berpotensi menghambat jenjang karier, mengurangi produktivitas, dan membuat seseorang sulit dipercaya untuk memegang posisi strategis.
Ketika seseorang terlalu bergantung pada pengakuan orang lain, mereka mudah tersinggung, merasa kurang dihargai, atau iri terhadap penghargaan yang diterima orang lain. Hal ini dapat menyebabkan konflik interpersonal, lingkungan kerja yang tidak sehat, dan ketidakpuasan dalam karier.
Jika tidak ditangani, seseorang dapat terjebak dalam pola kerja yang melelahkan secara emosional dan merasa stagnan, meskipun sebenarnya mereka memiliki potensi besar untuk berkembang.
Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain:
Selain itu, mendapatkan dukungan profesional dan lingkungan kerja yang tepat juga penting, terutama dari pihak yang memahami perkembangan karier dan kebutuhan psikologis talenta profesional.
Bekerja sama dengan perusahaan rekrutmen atau headhunter dapat membantu profesional memahami potensi dan nilai dirinya secara lebih objektif. Headhunter di Jakarta seperti RecruitFirst Indonesia tidak hanya membantu mencocokkan kandidat dengan perusahaan tepat, tetapi juga memberikan wawasan mengenai pengembangan karier, penguatan personal branding, dan peningkatan kepercayaan diri dalam proses rekrutmen.
Jika Anda merasa stagnan, tidak percaya diri dalam melamar pekerjaan, atau membutuhkan panduan untuk menemukan posisi terbaik sesuai kemampuan, tim profesional kami siap membantu.
Baca juga: Ini Daftar Pekerjaan Remote Paling Dicari di Tahun 2025
Ingin berkembang tanpa bergantung pada validasi orang lain? Konsultasikan perjalanan karier Anda bersama RecruitFirst Indonesia. Hubungi kami sekarang untuk diskusi lebih lanjut dan temukan peluang yang sesuai dengan potensi terbaik Anda.