Selama bertahun-tahun, banyak perusahaan menerapkan career ladder sebagai pendekatan utama dalam pengembangan karier karyawan. Dalam model ini, seseorang berkembang melalui jenjang yang jelas, mulai dari posisi junior hingga level manajerial atau eksekutif. Namun, perubahan dunia kerja, transformasi digital, dan kebutuhan akan keterampilan yang semakin beragam membuat banyak organisasi mulai beralih ke konsep career lattice.
Lalu, apa sebenarnya perbedaan antara career ladder dan career lattice? Mana yang lebih efektif untuk mendukung pengembangan talenta dan mempertahankan karyawan terbaik? Berikut penjelasannya.
Career ladder adalah jalur karier tradisional yang berfokus pada perkembangan secara vertikal. Seorang karyawan akan mendapatkan promosi ke posisi yang lebih tinggi seiring bertambahnya pengalaman, tanggung jawab, dan pencapaian.
Sebagai contoh:
Model ini memberikan target yang jelas bagi karyawan karena setiap jenjang memiliki tanggung jawab, kompensasi, dan status yang lebih tinggi.
Namun, career ladder memiliki beberapa keterbatasan, seperti:
Career lattice merupakan pendekatan pengembangan karier yang lebih fleksibel. Alih-alih hanya bergerak ke atas, karyawan juga dapat berpindah secara horizontal, diagonal, atau lintas fungsi untuk memperoleh pengalaman dan keterampilan baru.
Contohnya, seorang Digital Marketing Specialist dapat berpindah menjadi Product Marketing Specialist, kemudian bergabung ke tim Business Development, sebelum akhirnya menduduki posisi Marketing Manager. Meskipun tidak selalu berupa promosi, setiap perpindahan memberikan kompetensi baru yang memperkaya kemampuan karyawan.
Pendekatan ini semakin relevan karena perusahaan membutuhkan talenta dengan keterampilan multidisiplin yang mampu beradaptasi terhadap perubahan bisnis.
| Career Ladder | Career Lattice |
|---|---|
| Fokus pada promosi vertikal | Fokus pada mobilitas karier ke berbagai arah |
| Struktur karier linear | Struktur karier fleksibel |
| Kesuksesan diukur melalui kenaikan jabatan | Kesuksesan diukur melalui pengembangan kompetensi dan pengalaman |
| Cocok untuk organisasi dengan struktur hierarki yang kuat | Cocok untuk organisasi yang dinamis dan agile |
| Mobilitas antar divisi relatif terbatas | Mendorong perpindahan lintas fungsi dan pengembangan skill |
Perubahan kebutuhan bisnis membuat perusahaan tidak lagi hanya mencari spesialis, tetapi juga profesional dengan kemampuan lintas fungsi.
Beberapa alasan mengapa career lattice semakin populer antara lain:
Tidak juga. Kedua pendekatan memiliki keunggulan masing-masing dan dapat diterapkan secara bersamaan.
Career ladder masih sangat relevan untuk posisi yang membutuhkan jenjang karier yang jelas, seperti:
Sementara itu, career lattice lebih sesuai untuk bidang yang berkembang cepat, seperti:
Banyak perusahaan kini menggabungkan kedua pendekatan tersebut. Karyawan diberi kesempatan untuk memperluas pengalaman melalui perpindahan lintas fungsi sebelum melanjutkan promosi ke posisi yang lebih tinggi.
Agar career lattice berjalan efektif, perusahaan perlu memiliki strategi talent management yang terencana.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan HR meliputi:
Dengan strategi tersebut, perusahaan tidak hanya mengembangkan individu, tetapi juga membangun organisasi yang lebih tangguh menghadapi perubahan.
Walaupun internal mobility menjadi prioritas, perusahaan tetap membutuhkan talenta eksternal untuk membawa perspektif baru, mengisi posisi strategis, atau memperoleh keahlian yang belum dimiliki organisasi.
Di sinilah peran headhunter menjadi semakin penting. Headhunter dapat membantu perusahaan menemukan kandidat berkualitas dengan pengalaman spesifik yang sulit diperoleh melalui proses rekrutmen konvensional.
Bagi perusahaan yang membutuhkan tenaga profesional secara cepat, bekerja sama dengan headhunter di Jakarta maupun headhunter di Indonesia dapat mempercepat proses pencarian kandidat sekaligus meningkatkan kualitas perekrutan. Selain menghemat waktu, perusahaan juga memperoleh akses ke kandidat pasif yang belum tentu aktif mencari pekerjaan tetapi memiliki kompetensi yang dibutuhkan.
Baca juga: Cara Mengatasi Tingginya Offer Rejection pada Kandidat Senior
Mengembangkan talenta internal melalui career lattice merupakan strategi jangka panjang yang penting. Namun, ketika perusahaan membutuhkan kandidat berpengalaman untuk memperkuat tim atau mengisi posisi strategis, proses rekrutmen yang tepat menjadi faktor penentu keberhasilan.
Sebagai salah satu perusahaan rekrutmen terpercaya, RecruitFirst Indonesia membantu perusahaan menemukan talenta terbaik melalui layanan headhunting, executive search, permanent recruitment, hingga solusi tenaga kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
Apabila perusahaan Anda sedang mencari kandidat berkualitas atau ingin berkonsultasi mengenai strategi rekrutmen yang efektif, hubungi RecruitFirst Indonesia. Tim kami siap membantu Anda menemukan talenta yang tepat untuk mendukung pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan.