Bagi banyak perusahaan, menemukan career break dalam resume kandidat sering kali menimbulkan pertanyaan. Mengapa kandidat tersebut meninggalkan pekerjaan sebelumnya? Apakah keterampilannya sudah tidak relevan? Apakah mereka dapat kembali beradaptasi dengan lingkungan kerja?
Kekhawatiran tersebut memang wajar, tetapi kenyataannya career break semakin umum terjadi dalam dunia kerja saat ini. Seseorang dapat mengambil jeda karier karena berbagai alasan, seperti melanjutkan pendidikan, merawat keluarga, memulihkan diri dari burnout, membangun bisnis, hingga terdampak restrukturisasi perusahaan atau pemutusan hubungan kerja.
Daripada langsung menganggap career break sebagai tanda negatif, perusahaan sebaiknya mengevaluasi kemampuan, pengalaman, dan potensi kandidat secara menyeluruh.
Dengan menerapkan pendekatan rekrutmen berbasis keterampilan dan kompetensi, perusahaan dapat membuka akses ke talent pool yang lebih luas serta membuat keputusan perekrutan yang lebih tepat.
Pandangan bahwa seseorang harus memiliki perjalanan karier yang selalu berjalan tanpa jeda mulai berubah. Saat ini, banyak profesional memiliki perjalanan karier yang tidak selalu linear karena perubahan industri, kondisi ekonomi, maupun prioritas pribadi.
Beberapa alasan umum seseorang mengambil career break antara lain:
Career break tidak selalu menunjukkan kurangnya komitmen atau kemampuan seseorang. Dalam banyak kasus, kandidat justru kembali ke dunia kerja dengan perspektif baru, kemampuan beradaptasi yang lebih baik, serta keterampilan yang dapat diterapkan di berbagai situasi.
Terlalu fokus pada riwayat pekerjaan tanpa jeda dapat membuat perusahaan kehilangan kandidat berkualitas.
Alih-alih bertanya, “Mengapa ada jeda dalam karier kandidat?”, perusahaan sebaiknya mempertanyakan, “Apa yang telah kandidat capai dan apakah mereka mampu menjalankan peran tersebut?”
Banyak profesional tetap mengembangkan diri selama career break melalui berbagai aktivitas seperti:
Aktivitas tersebut menunjukkan inisiatif, kemauan belajar, dan kemampuan untuk terus berkembang—hal yang tetap bernilai bagi perusahaan.
Setiap career break memiliki cerita yang berbeda.
Ada kandidat yang mengambil jeda untuk melanjutkan pendidikan atau membangun bisnis, sementara kandidat lainnya mungkin terdampak kondisi ekonomi atau perubahan organisasi.
Dalam proses wawancara, perusahaan perlu menciptakan suasana yang membuat kandidat dapat menjelaskan perjalanan kariernya secara terbuka tanpa merasa dihakimi. Penjelasan yang jelas dan konsisten dapat menunjukkan kedewasaan serta kemampuan kandidat dalam mengambil keputusan karier.
Nilai seorang kandidat seharusnya diukur berdasarkan kemampuannya menjalankan pekerjaan, bukan hanya berdasarkan apakah mereka memiliki riwayat kerja tanpa jeda.
Perusahaan dapat mengevaluasi:
Jika kompetensi kandidat sesuai dengan kebutuhan perusahaan, career break tidak seharusnya mengalahkan pengalaman relevan yang telah dimiliki.
Kandidat yang berkualitas biasanya tetap berusaha meningkatkan kemampuan mereka meskipun sedang tidak bekerja secara penuh waktu.
Perusahaan dapat mencari informasi mengenai apakah kandidat:
Kemauan untuk terus belajar menunjukkan kemampuan beradaptasi, rasa ingin tahu, dan keinginan untuk berkembang.
Daripada membuat asumsi berdasarkan riwayat pekerjaan, perusahaan perlu menilai apakah kandidat mampu menjalankan tanggung jawab pekerjaan saat ini.
Hal ini dapat dilakukan melalui:
Evaluasi yang objektif memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai potensi kandidat dibandingkan hanya melihat adanya career gap.
Career break juga dapat membantu seseorang mengembangkan soft skills yang bernilai bagi perusahaan.
Beberapa kemampuan yang mungkin berkembang selama career break meliputi:
Keterampilan tersebut dapat diterapkan dalam berbagai industri dan berkontribusi terhadap keberhasilan seseorang di tempat kerja.
Salah satu tantangan dalam proses rekrutmen adalah adanya unconscious bias atau bias yang tidak disadari.
Hiring manager terkadang memiliki asumsi bahwa kandidat dengan career break:
Namun, asumsi tersebut tidak selalu berdasarkan fakta.
Dengan menggunakan wawancara terstruktur dan standar evaluasi yang sama untuk setiap kandidat, perusahaan dapat membuat keputusan perekrutan yang lebih adil dan objektif.
Perusahaan yang memiliki perspektif lebih terbuka dalam proses hiring dapat menemukan profesional berpengalaman yang sebelumnya mungkin terlewatkan.
Beberapa manfaatnya antara lain:
Di tengah persaingan mendapatkan talenta terbaik, perusahaan yang mampu menilai kandidat berdasarkan kemampuan dan potensinya memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan karyawan berkinerja tinggi.
Baca juga: Potongan Gaji Karyawan: Kapan Diperbolehkan Secara Hukum?
Mengevaluasi kandidat secara objektif membutuhkan pengalaman, metode assessment yang tepat, serta pemahaman mendalam mengenai kemampuan teknis dan soft skills kandidat. Di sinilah peran headhunter atau perusahaan rekrutmen menjadi penting.
Partner rekrutmen yang berpengalaman dapat membantu perusahaan menemukan kandidat berdasarkan kompetensi, kesesuaian budaya kerja, dan potensi jangka panjang—bukan hanya berdasarkan perjalanan karier yang terlihat di resume.
Sebagai perusahaan rekrutmen terpercaya, RecruitFirst Indonesia membantu perusahaan menemukan talenta terbaik melalui solusi rekrutmen yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis. Tim konsultan kami melakukan evaluasi kandidat secara menyeluruh sehingga perusahaan dapat mengambil keputusan hiring dengan lebih percaya diri.
Baik untuk kebutuhan perekrutan posisi entry level, specialist, hingga leadership, RecruitFirst Indonesia siap mendukung strategi perekrutan perusahaan Anda.
Hubungi RecruitFirst Indonesia hari ini untuk menemukan talenta yang tepat bagi bisnis Anda, terlepas dari apakah perjalanan karier kandidat berjalan secara linear atau memiliki jeda.