Di tengah persaingan mendapatkan talenta terbaik, perusahaan dituntut untuk membangun proses rekrutmen yang transparan, profesional, dan efisien. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, muncul istilah ghost job, yaitu lowongan pekerjaan yang dipublikasikan tetapi sebenarnya tidak sedang dalam proses perekrutan aktif. Praktik ini menjadi sorotan karena dapat memengaruhi pengalaman kandidat sekaligus merusak citra perusahaan.
Lalu, apa itu ghost job, mengapa praktik ini terjadi, dan bagaimana dampaknya bagi bisnis? Simak penjelasannya berikut ini.
Ghost job adalah lowongan pekerjaan yang tetap dipublikasikan meskipun perusahaan tidak memiliki kebutuhan untuk segera merekrut kandidat. Dalam beberapa kasus, posisi tersebut memang belum memiliki persetujuan anggaran, proses perekrutan ditunda, atau bahkan sudah terisi tetapi iklannya belum dihapus.
Tidak semua ghost job dibuat dengan sengaja. Beberapa perusahaan mungkin mempertahankan lowongan karena alasan administratif atau lupa memperbarui status rekrutmen. Namun, ada pula perusahaan yang sengaja memasang lowongan untuk mengumpulkan database kandidat, mengukur kondisi pasar tenaga kerja, atau memberikan kesan bahwa bisnis sedang berkembang.
Apa pun alasannya, jika lowongan tidak benar-benar aktif, praktik ini dapat menimbulkan persepsi negatif dari para pencari kerja.
Ada beberapa alasan mengapa ghost job masih ditemukan di berbagai industri, antara lain:
Meskipun beberapa alasan tersebut terdengar masuk akal, perusahaan tetap perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap reputasi dan hubungan dengan kandidat.
Employer branding tidak hanya dibangun melalui kampanye media sosial atau halaman karier yang menarik. Pengalaman kandidat selama proses rekrutmen juga memiliki pengaruh besar.
Ketika kandidat berulang kali melamar tetapi tidak pernah mendapatkan respons karena posisi sebenarnya tidak tersedia, mereka dapat kehilangan kepercayaan terhadap perusahaan. Pengalaman negatif tersebut sering kali dibagikan melalui media sosial, komunitas profesional, maupun platform ulasan perusahaan.
Dalam jangka panjang, reputasi perusahaan sebagai tempat bekerja dapat menurun.
Kandidat menginvestasikan waktu untuk menyesuaikan CV, menulis surat lamaran, hingga mengikuti proses seleksi. Jika ternyata lowongan tersebut tidak benar-benar tersedia, mereka akan merasa usaha yang telah dilakukan sia-sia.
Candidate experience yang buruk dapat membuat talenta berkualitas enggan melamar kembali di masa depan.
Kepercayaan merupakan salah satu aset terpenting dalam proses rekrutmen. Ketika perusahaan dianggap tidak transparan mengenai kebutuhan perekrutan, kandidat maupun profesional di industri dapat mempertanyakan kredibilitas perusahaan.
Hal ini juga dapat memengaruhi hubungan dengan mitra bisnis, termasuk employment agency maupun headhunter yang membantu proses pencarian kandidat.
Tim HR harus menyaring banyak lamaran yang sebenarnya belum diperlukan. Akibatnya, waktu dan sumber daya menjadi kurang optimal, terutama ketika perusahaan benar-benar membutuhkan kandidat dalam waktu singkat.
Perusahaan dapat menerapkan beberapa langkah berikut untuk menjaga kualitas proses rekrutmen:
Publikasikan lowongan hanya ketika posisi telah mendapatkan persetujuan dan memang siap untuk diisi.
Jika proses perekrutan dihentikan atau posisi sudah terisi, segera tutup iklan agar tidak menimbulkan kebingungan bagi kandidat.
Apabila perusahaan sedang membangun talent pool untuk kebutuhan masa depan, sampaikan informasi tersebut secara jelas pada deskripsi pekerjaan. Transparansi akan membantu membangun kepercayaan kandidat.
Alih-alih memasang ghost job, perusahaan dapat membangun database kandidat melalui career community, program referral, talent networking, atau bekerja sama dengan headhunter di Indonesia yang memiliki jaringan profesional yang luas.
Bekerja sama dengan employment agency atau headhunter dapat membantu perusahaan memperoleh kandidat yang sesuai tanpa harus mempertahankan lowongan yang sebenarnya tidak aktif. Mitra rekrutmen yang berpengalaman juga dapat memberikan insight mengenai tren pasar tenaga kerja, ekspektasi gaji, hingga strategi employer branding yang efektif.
Membangun proses rekrutmen yang profesional membutuhkan strategi yang tepat. Sebagai salah satu headhunter di Indonesia, RecruitFirst Indonesia membantu perusahaan menemukan talenta terbaik melalui proses seleksi yang transparan, efisien, dan berorientasi pada kebutuhan bisnis.
Didukung oleh tim konsultan berpengalaman, RecruitFirst Indonesia memahami bahwa pengalaman kandidat merupakan bagian penting dari employer branding. Oleh karena itu, setiap proses pencarian kandidat dilakukan dengan komunikasi yang jelas, evaluasi yang menyeluruh, serta pendekatan yang mengutamakan kualitas.
Baik perusahaan membutuhkan perekrutan untuk posisi spesialis, manajerial, maupun eksekutif, RecruitFirst Indonesia siap membantu menghadirkan solusi rekrutmen yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Baca juga: Career Lattice vs Career Ladder: Apa Perbedaannya
Ghost job mungkin terlihat sebagai strategi yang dapat membantu perusahaan membangun talent pool atau mengantisipasi kebutuhan rekrutmen di masa depan. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, praktik ini justru dapat menurunkan employer branding, merusak candidate experience, dan mengurangi kepercayaan terhadap perusahaan.
Daripada mempertahankan lowongan yang tidak aktif, perusahaan sebaiknya mengedepankan transparansi dan bekerja sama dengan mitra rekrutmen yang terpercaya. Dengan strategi yang tepat, perusahaan dapat memperoleh talenta berkualitas sekaligus membangun reputasi sebagai tempat kerja yang profesional dan kredibel.
Butuh bantuan menemukan kandidat terbaik tanpa mengorbankan pengalaman kandidat? Hubungi RecruitFirst Indonesia hari ini. Tim konsultan kami siap membantu Anda menyusun strategi rekrutmen yang efektif, efisien, dan sesuai dengan kebutuhan bisnis, mulai dari pencarian talenta hingga proses seleksi yang berkualitas.