Belakangan ini, banyak karyawan yang menjalani side hustle di samping pekerjaan utamanya. Mereka mencari dan mengerjakan freelance, part-time atau menjalankan bisnis sampingan. Fenomena ini dikenal dengan istilah career cushioning.
Kendati career cushioning merupakan pilihan pribadi karyawan, nyatanya fenomena ini bisa menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi perusahaan. Karyawan bisa saja lebih fokus pada pekerjaan sampingan hingga melupakan kewajibannya terhadap pekerjaan utama.
Tentu saja perusahaan perlu menghadapi fenomena ini dengan serius. Bagaimana caranya? Simak terus artikelnya sampai selesai!
Career cushioning bisa diartikan sebagai salah satu strategi yang dilakukan oleh karyawan untuk melindungi diri dari kemungkinan kehilangan pekerjaan atau perubahan karir yang tidak terduga. Strategi ini dilakukan dengan cara mengembangkan soft skills, mencari pekerjaan sampingan alias freelancer, menjalankan bisnis sampingan seperti online shop, atau membangun jaringan yang kuat di luar perusahaan.
Career cushioning menjadi fenomena yang sering terjadi di kalangan karyawan dalam berbagai bidang apa pun. Tidak sedikit karyawan yang aktif mencari pekerjaan tambahan atau sumber pendapatan lainnya di luar pekerjaan pekerjaan utama mereka. Fenomena ini merupakan respons alami terhadap ketidakpastian ekonomi dan perubahan yang cepat dalam dunia kerja.
Career cushioning menjadi kekhawatiran bagi karena bisa mengurangi tingkat komitmen karyawan terhadap pekerjaan utama mereka. Selain itu, perusahaan juga bisa kehilangan karyawan yang memiliki potensi tinggi karena karyawan cenderung menjalankan bisnis sampingan atau pekerjaan tambahan. Career cushioning menciptakan ketidakpastian dalam manajemen Sumber Daya Manusia (SDM).
Ada beberapa alasan kuat mengapa karyawan memilih untuk melakukan career cushioning di samping pekerjaan utama mereka, yaitu:
Ketidakpastian ekonomi bisa menghantui siapa pun, termasuk karyawan. Di sinilah career cushioning hadir sebagai opsi yang memberikan keamanan finansial bagi karyawan, apalagi jika mereka sudah berkeluarga dan memiliki banyak tanggungan. Mereka bisa menghindari masalah jika mengalami PHK atau situasi ekonomi yang tidak stabil karena selalu ada dana cadangan yang dapat diandalkan dari pekerjaan sampingannya.
Dunia kerja terus berubah. Tuntutan dan persaingan semakin ketat. Inilah salah satu alasan karyawan memilih cushioning. Pasalnya, mereka ingin terus berkembang, dengan cara mengambil kursus online, mengikuti pelatihan, atau bahkan menjadi freelancer dalam bidang yang mereka minati. Tidak hanya itu, karyawan yang memiliki beragam keterampilan lebih berdaya dan siap menghadapi perubahan dalam dunia kerja.
Tidak sedikit karyawan yang ingin mandiri. Mereka melakukan career cushioning karena merasa memiliki kendali atas hidup dan karirnya sendiri. Karyawan bisa mengatur waktu, keputusan, dan sumber pendapatan tambahannya sendiri. Mereka pun bisa mengendalikan nasib tanpa terlalu bergantung pada perusahaan tempatnya bekerja.
Ada kalanya karyawan melakukan career cushioning karena ingin memanfaatkan waktu luangnya dengan produktif. Pada waktu luang, mereka bisa melakukan pekerjaan yang sesuai dengan minat atau hobinya. Bagi mereka, career cushioning bukan hanya perkara uang, tetapi juga memanfaatkan waktu luang dengan cara yang bermanfaat dan memuaskan.
Ada juga karyawan yang melihat career cushioning sebagai peluang untuk membangun masa depan yang lebih baik. Lewat pekerjaan sampingan atau kursus online, mereka bisa membangun portofolio atau reputasi yang kuat di bidang tertentu. Alhasil, mereka bisa menjadi expert di bidang yang mereka sukai.
Tidak bisa dimungkiri jika career cushioning merupakan fenomena yang mengkhawatirkan bagi perusahaan. Untuk menghadapi fenomena ini, perusahaan perlu mengambil beberapa tindakan di bawah ini.
Pelatihan dan pengembangan tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas karyawan, tetapi juga membuat mereka merasa dihargai. Pelatihan yang relevan berguna supaya perusahaan membantu karyawan mengasah keterampilannya. Mereka merasa didukung dan diberdayakan untuk berkembang di dalam perusahaan.
Job rotation adalah strategi pengembangan keterampilan sehingga karyawan tidak merasa monoton dalam pekerjaannya. Mereka bisa terlibat untuk bekerja di berbagai departemen atau proyek. Perusahaan tidak hanya memperkaya pengalaman karyawan, tetapi juga mencegah terjadinya kebosanan dalam bekerja. Karyawan pun bisa mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang berbagai aspek dalam perusahaan.
Program succession planning adalah program yang dirancang untuk mempersiapkan karyawan untuk mengambil posisi yang lebih tinggi di perusahaan. Jika karyawan eksekutif atau pimpinan tingkat atas sudah resign, setidaknya kamu sudah mempunyai rencana yang disusun dengan baik untuk mengisi posisi tersebut. Program ini juga memberikan kejelasan mengenai peluang karir di perusahaan. Karyawan pun merasa lebih yakin tentang masa depan karirnya. Jika berkinerja baik dan berkomitmen, karyawan pun bisa mendapatkan kesempatan promosi dan berkembang di perusahaan.
Komunikasi adalah kunci memahami kekhawatiran dan kebutuhan karyawan. Perusahaan harus selalu berusaha untuk membangun hubungan yang kuat dan terbuka dengan karyawan. Ketika karyawan merasa didengar dan dihargai, mereka merasa lebih terhubung dengan perusahaan. Mereka pun bisa terhindar dari dorongan untuk mencari peluang di luar perusahaan.
Perusahaan harus memastikan bahwa kompensasi yang ditawarkan sejalan dengan standar industri, termasuk gaji yang kompetitif dan tunjangan yang menarik. Karyawan yang diberikan kompensasi yang setara dengan nilai dan kontribusinya cenderung tetap loyal pada perusahaan. Kompensasi yang baik juga bisa menjadi insentif bagi karyawan untuk terus memberikan kinerja yang maksimal.
Berikan karyawan ruang untuk berinovasi dan mengembangkan ide kreatifnya. Mereka akan lebih terlibat dengan pekerjaan utama karena kamu mendukung mereka dalam mengemukakan ide kreatif dan mewujudkannya. Ketika karyawan diberikan kesempatan untuk mewujudkan ide kreatifnya, mereka tidak akan mencari kesempatan lain di luar perusahaan. Hasilnya, perusahaan pun bisa mengalami pertumbuhan yang bermanfaat.
Karyawan dapat mengalami tekanan dan tantangan selama bekerja. Oleh karena itu, kamu harus menyediakan dukungan mental dan emosional ketika diperlukan. Jika mereka menghadapi masalah, mereka tidak perlu khawatir karena kamu siap membantu. Hal ini juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik dan sehat.
Fenomena career cushioning memang tidak bisa dihindari. Namun, kamu bisa beradaptasi dan mengambil tindakan yang sesuai untuk menghadapinya. Pahami alasan karyawan melakukan career cushioning dan lakukan tips yang dibagikan di atas supaya kamu tetap bisa mempertahankan karyawanmu.
Kamu bisa menggunakan jasa outsourcing dari RecruitFirst untuk mencari tenaga alih daya yang siap mengisi beberapa posisi di perusahaanmu. Ceritakan mengenai kebutuhan karyawanmu bersama RecruitFirst dan kami pasti membantu mulai dari proses perekrutan hingga onboarding sampai mereka siap bekerja di perusahaanmu. Hubungi kami dan mari berkonsultasi mengenai kebutuhan perusahaanmu sekarang juga!