Jeda karier atau career break pada kandidat sering kali menjadi perhatian khusus bagi tim rekrutmen. Banyak yang menganggap bahwa jeda karier berarti hilangnya keterampilan atau relevansi dengan industri, namun pada kenyataannya, banyak kandidat dengan career break yang kembali ke dunia kerja dengan perspektif baru, keterampilan tambahan, dan motivasi yang tinggi.
Penting untuk memahami alasan dan konteks di balik career break atau jeda karier seorang kandidat adalah langkah penting dalam proses rekrutmen. Dengan mengajukan pertanyaan yang tepat, HR dapat mengidentifikasi apakah kandidat memiliki motivasi untuk kembali bekerja dan bagaimana mereka menggunakan jeda karier mereka secara produktif.
Berikut adalah beberapa cara yang bisa diterapkan HR untuk mengevaluasi kandidat dengan career break.
1. Identifikasi dan Pahami Alasan Career Break
Langkah pertama adalah memahami alasan di balik jeda karier. Pertanyaan ini bisa dilakukan dengan pendekatan yang empatik agar kandidat merasa nyaman untuk menjawab. Tanyakan mengapa mereka mengambil jeda karier: apakah alasan tersebut berkaitan dengan keluarga, kesehatan, PHK, atau alasan pribadi lainnya.
Jika alasan kandidat adalah ingin membangun keluarga, ini menjadi perhatian penting bagi HR dalam mengevaluasi kesiapan kandidat untuk kembali bekerja. Dengan memahami alasan ini, perusahaan bisa menilai kebutuhan fleksibilitas atau dukungan khusus yang mungkin dibutuhkan oleh kandidat.
2. Aktivitas Produktif Selama Career Break
Selanjutnya, cari tahu apakah kandidat melakukan aktivitas produktif selama career break. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tetap berusaha mengembangkan diri dan memiliki inisiatif untuk belajar dan berkontribusi.
Beberapa contoh aktivitas produktif meliputi:
Jika kandidat menghabiskan waktu sebagai content creator, evaluasi peran dan pencapaian mereka dalam bidang tersebut. Apakah mereka membangun audiens, meningkatkan engagement, atau menghasilkan konten dengan nilai tambah tertentu? Aktivitas ini juga dapat dimasukkan dalam CV sebagai bukti bahwa mereka tetap produktif, kreatif, dan memiliki semangat untuk belajar.
3. Identifikasi Masalah dengan Alasan yang Tepat
Saat menilai alasan career break, HR perlu memastikan kandidat tidak menjelekkan perusahaan sebelumnya. Alasan yang diberikan kandidat harus masuk akal, dan menghindari hal-hal negatif yang merugikan nama perusahaan lain. Pastikan alasan mereka bukan terkait konflik atau hal-hal yang bersifat kriminal. Dengan demikian, HR dapat memahami alasan career break secara objektif dan tetap profesional.
4. Pertanyaan dengan STAR Method untuk Menilai Adaptasi
Untuk mengevaluasi kemampuan kandidat dalam beradaptasi kembali di lingkungan kerja, gunakan STAR Method (Situation, Task, Action, Result). Berikan contoh kasus yang sesuai dengan kondisi kerja saat ini, bukan beberapa tahun lalu. Misalnya, “Dalam situasi seperti ini, dengan masalah tertentu, apa yang akan kamu lakukan dan apa hasil yang kamu harapkan?” Pastikan skenario yang diberikan relevan dengan kondisi terkini. Misalnya, tanyakan mengenai platform yang sering digunakan saat ini, seperti TikTok, bukan Facebook, yang mungkin kurang relevan.
5. Case Study untuk Menilai Kemampuan Teknis
Untuk menilai kemampuan teknis dan apakah kandidat masih update dengan situasi terkini, berikan case study yang relevan. Dari case study ini, kandidat dapat diminta untuk menunjukkan solusi mereka dan melakukan presentasi tentang hasilnya. Ini bisa membantu HR menilai apakah mereka masih kompeten dalam bidang yang digeluti dan sejauh mana mereka mengikuti perkembangan terbaru di industri.
Dengan pendekatan ini, HR dapat menilai kesiapan kandidat dengan career break untuk kembali ke dunia kerja. Metode-metode ini membantu perusahaan memilih kandidat yang tidak hanya siap bekerja kembali tetapi juga memiliki motivasi dan semangat untuk terus berkembang.
Bersama RecruitFirst, perusahaan dapat menerapkan strategi yang relevan dan efektif untuk tetap menemukan kandidat terbaik meskipun dengan career break. Hubungi kami untuk memaksimalkan efisiensi bisnis Anda!