OKR dan KPI sering kali dianggap mirip, tetapi sebenarnya keduanya memiliki perbedaan yang cukup mendasar dalam cara mereka digunakan untuk menilai keberhasilan suatu perusahaan atau tim. KPI, singkatnya, adalah indikator-indikator spesifik yang dipakai untuk memantau kinerja. Biasanya, KPI mencakup angka-angka atau data yang bisa diukur, seperti jumlah penjualan, tingkat kepuasan pelanggan, atau tingkat retensi karyawan. Dengan kata lain, KPI membantu perusahaan melihat sejauh mana mereka berhasil mencapai target yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Di sisi lain, OKR lebih fokus pada bagaimana sebuah perusahaan atau tim menetapkan tujuan yang jelas dan ambisius. OKR biasanya terdiri dari dua bagian: tujuan (objectives) yang bersifat inspiratif dan hasil kunci (key results) yang terukur. Tujuan ini dibuat agar memberikan arah yang jelas bagi tim, sementara hasil kunci berfungsi sebagai alat ukur konkret untuk melihat apakah tujuan tersebut tercapai atau tidak. Biasanya, setiap tujuan dalam kerangka OKR akan memiliki tiga hingga lima hasil kunci yang harus dicapai.
Jadi, meskipun keduanya sama-sama digunakan untuk mengukur kinerja, KPI lebih fokus pada hasil-hasil spesifik yang sudah ditentukan sebelumnya, sedangkan OKR lebih menekankan pada proses menetapkan tujuan besar dan kemudian memecahnya menjadi hasil-hasil yang bisa diukur secara jelas.
Objective Key Result (OKR) adalah kerangka penetapan tujuan yang bersifat kolaboratif dan berguna dalam membantu perusahaan untuk mencapai tujuan yang sistematis dan terukur.
Singkatnya, OKR merupakan metode yang digunakan perusahaan dalam melacak setiap kemajuan serta menciptakan keselarasan dan keterlibatan karyawan melalui tujuan yang dicapai.
Tujuan perusahaan yang ditetapkan dalam OKR haruslah bersifat konkret, berorientasi pada tindakan, dan terus menghasilkan kemajuan. Idealnya, OKR yang telah dirancang juga bisa digunakan dalam mengoreksi langkah eksekusi yang kurang tepat.
OKR ditemukan oleh Andy Grove ketika menjabat menjadi CEO Intel sebagai cara untuk menetapkan tujuan yang ingin dicapai dalam perusahaan. Dalam penerapannya, OKR dinilai berhasil sehingga Intel bisa mendulang kesuksesan hingga saat ini.
OKR kemudian dipopulerkan oleh John Doerr, salah satu karyawan Andy Grove, pada tahun 1970-an. Keberhasilan OKR dalam mencapai tujuan membuat metode ini banyak diterapkan perusahaan masa kini.
Berbeda dengan OKR, Key Performance Indicator (KPI) lebih berfokus pada pencapaian yang dihasilkan oleh kinerja setiap karyawan. KPI berguna dalam mengukur kinerja serta membantu perusahaan dalam membuat keputusan terkait hasil pencapaian tersebut.
KPI memberikan data akurat yang bermanfaat dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan karyawan. Data dari KPI berguna bagi perusahaan untuk menilai kinerja karyawannya serta kontribusi dan dampak signifikan dari tanggung jawab yang diberikan kepada mereka.
KPI sendiri dicetuskan oleh Peter Drucker, seorang konsultan di bidang manajemen, pada awal tahun 1990-an. Drucker menyarankan KPI untuk membantu perusahaan agar lebih maksimal dalam memahami setiap kemajuan atau pencapaian karyawan terkait target perusahaan.
Baca Juga: 8 Faktor Yang Mempengaruhi Kinerja Karyawan
Selain perbedaan definisi yang sudah disebutkan sebelumnya, masih ada beberapa hal lain yang membedakan antara KPI dan OKR, terutama dalam hal tujuan dan cara penerapannya. Yuk, kita coba bahas lebih lanjut mengenai perbedaan dari kedua alat pengukuran ini.
OKR berfungsi sebagai alat untuk menggambarkan bagaimana tujuan-tujuan tertentu ditetapkan, serta strategi-strategi yang digunakan untuk mencapainya. Setiap karyawan biasanya memiliki OKR masing-masing, karena strategi yang digunakan bisa berbeda-beda tergantung pada target yang ingin dicapai. OKR lebih berkaitan dengan pengukuran tujuan yang akan datang, atau dengan kata lain, fokusnya lebih ke arah masa depan.
Sementara itu, KPI lebih digunakan untuk mengukur kemajuan atau perkembangan, baik secara individu maupun bisnis, dengan menggunakan data kuantitatif seperti grafik atau angka. Misalnya, jumlah pengunjung situs web perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Jadi, KPI lebih fokus pada pengukuran hasil yang sudah dicapai setelah suatu periode selesai.
Perbedaan lainnya adalah jumlah target yang ingin dicapai. Dalam OKR, biasanya target yang ditetapkan terdiri dari 1 hingga 5 tujuan utama, dan maksimal bisa mencapai 10 tujuan. Sedangkan dalam KPI, jumlah target biasanya lebih sedikit, hanya sekitar 1 hingga 4 tujuan saja.
Baik KPI maupun OKR sama-sama membutuhkan batasan waktu agar karyawan bisa tetap disiplin dalam mencapai target mereka. Pada OKR, waktu biasanya dibagi menjadi kuartal atau setiap tiga bulan sekali. Jadi dalam setahun ada empat periode kuartal. Sedangkan untuk KPI, jangka waktunya bisa lebih panjang, misalnya setiap enam bulan sekali atau bahkan setahun penuh, tergantung pada tujuan yang ingin dicapai.
OKR cenderung lebih fleksibel dan tidak terlalu rumit untuk disusun. Biasanya, target OKR bisa dibicarakan bersama rekan kerja atau atasan tanpa terlalu banyak prosedur formal. Sebaliknya, KPI seringkali membutuhkan rincian yang lebih mendalam dan harus didukung oleh berbagai laporan seperti laporan analitik (analytical report), laporan operasional (operational report), dan laporan strategis (strategic report).
Setiap jenis laporan ini memiliki fungsi masing-masing; misalnya laporan analitik memberikan gambaran rinci tentang nilai KPI dan dampaknya terhadap hasil kerja, sementara laporan operasional memberikan informasi tentang kondisi kerja sehari-hari.
Terakhir, perbedaan lainnya terletak pada bentuk tujuannya. OKR biasanya bersifat kualitatif dan tidak memerlukan grafik atau angka untuk menjelaskannya. Hal ini membuat OKR lebih mudah dipresentasikan kepada tim atau rekan kerja karena tidak perlu terlalu banyak data numerik. Sebaliknya, KPI bersifat kuantitatif sehingga memerlukan angka-angka atau grafik untuk menjelaskan pencapaiannya dengan jelas.Â
Kamu bisa melihat rangkuman perbedaan KPI dan OKR melalui tabel di bawah ini.
| OKR | KPI |
| Fokus terhadap pengukuran pencapaian target. | Fokus terhadap pencapaian individu. |
| Jumlah target yaitu 1 sampai 5 capaian, maksimal 10 capaian. | Jumlah target 1 sampai 4 capaian |
| Dibuat dalam 4 kuartal | Dibuat dalam 6 bulan atau 1 tahun |
| Penyusunan target fleksibel | Penyusunan target lebih detail |
| Target ditetapkan secara kualitatif | Target dibuat secara kuantitatif dengan bagan atau angka |
Baca juga: Indikator Produktivitas Kerja dan Cara Mengukurnya
Untuk menetapkan KPI dan OKR yang efektif, ada beberapa langkah penting yang bisa Anda ikuti agar prosesnya berjalan lebih lancar dan terarah. Berikut adalah penjelasan mengenai cara menetapkan KPI dan OKR dengan gaya bahasa yang lebih santai dan percakapan.
Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat membuat KPI dan OKR yang lebih terarah serta membantu perusahaan mencapai tujuannya dengan lebih efektif.
Kini, kamu sudah mengenal dan memahami perbedaan KPI dan OKR. Keduanya merupakan pilihan yang tepat dalam mengukur tujuan atau kinerja yang telah dilakukan. Lantas, manakah di antara KPI dan OKR yang lebih ideal untuk diterapkan dalam perusahaan?
Singkatnya, kamu perlu membuat OKR terlebih dahulu untuk menetapkan tujuan yang ingin dicapai. Setelah membuat OKR, kamu bisa membuat KPI untuk mengukur setiap kinerja dan kontribusi karyawan dalam mencapai tujuan tersebut. Intinya, baik KPI maupun OKR bisa saling mendukung satu sama lain dengan fungsinya masing-masing.
KPI dan OKR merupakan dua metode terukur yang bisa dikolaborasikan untuk mencapai tujuan perusahaan. Dalam mencapai tujuan tersebut, tentunya kamu ingin mendapatkan karyawan yang bisa memenuhi KPI dan OKR yang telah ditetapkan.
RecruitFirst yakin bahwa setiap perusahaan memiliki tujuannya masing-masing dan ingin mencapai kesuksesannya. Oleh sebab itu, kamu dapat menggunakan jasa RPO dan BPO untuk menemukan kandidat yang tepat. Hubungi kami sekarang dan capai tujuanmu bersama RecruitFirst.
Baca Juga: Panduan Lengkap Cara Membuat Key Performance Indicator dengan Tepat