Logo Recruit First White

Mengenal Career Catfishing: Penyebab Karyawan Baru Cepat Resign

You Ask, We Answer
Publish Date: 04 Jun 2026
Last Edited: 08 Jun 2026
Mengenal Career Catfishing: Penyebab Karyawan Baru Cepat Resign

Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan menghadapi tantangan baru dalam proses rekrutmen, yaitu fenomena career catfishing. Istilah ini merujuk pada situasi ketika ekspektasi kandidat terhadap sebuah pekerjaan tidak sesuai dengan realitas yang mereka temui setelah bergabung dengan perusahaan. Akibatnya, banyak karyawan baru memutuskan untuk resign dalam waktu singkat, bahkan sebelum melewati masa probation.

Fenomena ini semakin sering terjadi di berbagai industri, terutama di tengah persaingan perekrutan yang semakin ketat. Bagi perusahaan, kondisi ini bukan hanya berdampak pada tingginya tingkat turnover, tetapi juga meningkatkan biaya rekrutmen dan mengganggu produktivitas tim.

Apa Itu Career Catfishing?

Career catfishing adalah kondisi ketika kandidat merasa “tertipu” oleh gambaran pekerjaan atau perusahaan yang mereka terima selama proses rekrutmen. Sama seperti istilah catfishing dalam dunia digital yang menggambarkan identitas palsu, career catfishing terjadi ketika informasi mengenai pekerjaan, budaya kerja, tanggung jawab, atau peluang karier tidak sesuai dengan kenyataan.

Misalnya, sebuah posisi dipromosikan sebagai pekerjaan dengan fleksibilitas tinggi, tetapi setelah bergabung karyawan justru diwajibkan bekerja lembur hampir setiap hari. Atau kandidat dijanjikan peluang pengembangan karier yang besar, namun tidak ada program pengembangan yang tersedia.

Ketidaksesuaian ini dapat menimbulkan rasa kecewa dan menurunkan tingkat keterlibatan karyawan sejak awal masa kerja.

Mengapa Career Catfishing Semakin Sering Terjadi?

1. Deskripsi Pekerjaan yang Tidak Akurat

Banyak perusahaan membuat iklan lowongan yang terlalu umum atau bahkan terlalu menarik demi mendapatkan lebih banyak pelamar. Namun ketika tugas dan tanggung jawab yang sebenarnya jauh berbeda, karyawan baru dapat merasa ekspektasinya tidak terpenuhi.

Job description yang tidak jelas juga membuat kandidat sulit memahami peran yang akan mereka jalani sehari-hari.

2. Employer Branding yang Berlebihan

Employer branding memang penting untuk menarik talenta terbaik. Namun, ketika perusahaan hanya menampilkan sisi positif tanpa memberikan gambaran yang realistis mengenai tantangan pekerjaan, kandidat berisiko mengalami culture shock setelah bergabung.

Transparansi menjadi faktor penting agar perusahaan dapat menarik kandidat yang benar-benar sesuai dengan kondisi organisasi.

3. Proses Interview yang Kurang Transparan

Dalam beberapa kasus, recruiter atau hiring manager hanya fokus menjual posisi yang tersedia tanpa menjelaskan tantangan yang mungkin dihadapi kandidat.

Akibatnya, kandidat masuk dengan ekspektasi yang tidak realistis. Ketika kenyataan tidak sesuai harapan, mereka lebih mudah mencari peluang kerja lain.

4. Perubahan Prioritas Kandidat

Career catfishing tidak selalu berasal dari perusahaan. Kandidat juga dapat memiliki persepsi yang berubah setelah mulai bekerja.

Beberapa karyawan baru menyadari bahwa pekerjaan tersebut tidak sejalan dengan tujuan karier, nilai pribadi, atau gaya kerja yang mereka inginkan. Kondisi ini juga dapat memicu resign dini.

5. Kurangnya Proses Onboarding

Onboarding yang tidak efektif membuat karyawan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kerja baru. Mereka merasa tidak mendapatkan dukungan yang cukup untuk memahami budaya perusahaan, ekspektasi pekerjaan, maupun hubungan dengan tim.

Dalam situasi seperti ini, rasa tidak nyaman dapat berkembang menjadi keputusan untuk meninggalkan perusahaan.

Dampak Career Catfishing bagi Perusahaan

Fenomena ini membawa berbagai konsekuensi yang tidak bisa dianggap remeh.

Meningkatkan Biaya Rekrutmen

Setiap kali karyawan resign, perusahaan harus kembali mengeluarkan biaya untuk memasang iklan lowongan, melakukan seleksi kandidat, wawancara, hingga onboarding karyawan baru.

Menurunkan Produktivitas Tim

Ketika posisi kosong kembali, anggota tim lain sering kali harus mengambil tambahan pekerjaan. Hal ini dapat meningkatkan beban kerja dan memengaruhi produktivitas secara keseluruhan.

Merusak Employer Brand

Karyawan yang merasa kecewa berpotensi membagikan pengalaman negatif mereka melalui media sosial, platform ulasan perusahaan, atau jaringan profesional. Dalam jangka panjang, reputasi perusahaan dapat terdampak dan menyulitkan proses perekrutan berikutnya.

Meningkatkan Tingkat Turnover

Jika akar masalah tidak segera diperbaiki, perusahaan dapat mengalami siklus turnover yang terus berulang dan menghambat pertumbuhan bisnis.

Cara Mencegah Career Catfishing

  • Bangun Komunikasi yang Jujur. Perusahaan perlu memberikan gambaran yang realistis mengenai pekerjaan, budaya kerja, target, serta tantangan yang akan dihadapi kandidat. Kandidat yang memahami kondisi sebenarnya cenderung memiliki ekspektasi yang lebih tepat dan tingkat retensi yang lebih tinggi.
  • Perbaiki Job Description. Pastikan deskripsi pekerjaan mencerminkan tanggung jawab aktual, struktur pelaporan, serta keterampilan yang benar-benar dibutuhkan.
  • Libatkan Hiring Manager. Hiring manager sebaiknya berperan aktif dalam proses interview untuk menjelaskan ekspektasi pekerjaan secara langsung kepada kandidat.
  • Optimalkan Onboarding. Program onboarding yang baik membantu karyawan baru beradaptasi lebih cepat dan memahami peran mereka dalam organisasi.
  • Bekerja Sama dengan Mitra Rekrutmen Profesional. Mitra rekrutmen profesional tidak hanya membantu mencari talenta terbaik, tetapi juga memastikan adanya keselarasan antara ekspektasi kandidat dan kebutuhan perusahaan. Hal ini dapat mengurangi risiko resign dini akibat career catfishing.

Baca juga: Posisi Kosong Terlalu Lama? Ini Biaya yang Jarang Dihitung Perusahaan

Kesimpulan

Career catfishing merupakan fenomena yang semakin umum terjadi di dunia kerja modern. Ketika ekspektasi kandidat tidak sesuai dengan realitas yang mereka temui setelah bergabung, risiko resign dini menjadi lebih tinggi.

Oleh karena itu, perusahaan perlu membangun proses rekrutmen yang transparan, menyampaikan informasi secara jujur, serta memberikan pengalaman onboarding yang baik. Dengan langkah tersebut, perusahaan tidak hanya dapat mengurangi turnover, tetapi juga membangun hubungan kerja yang lebih kuat dan berkelanjutan dengan para karyawan.

Jika perusahaan Anda membutuhkan dukungan dalam mencari talenta terbaik, layanan headhunting, atau solusi tenaga kerja yang lebih efektif, RecruitFirst Indonesia siap membantu. Hubungi kami untuk mendapatkan solusi rekrutmen yang sesuai dengan kebutuhan bisnis Anda dan membangun tim yang lebih kuat untuk mendukung pertumbuhan perusahaan.

Debby Lim
Author
Debby Lim

As the business leader of RecruitFirst Indonesia, Debby brings over 13 years of industry experience to the team. With a wealth of knowledge across various industries, Debby excels at handling diverse roles and delivering exceptional results.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *