Beberapa tahun terakhir, dunia kerja mengalami banyak perubahan, mulai dari tren quiet quitting hingga burnout yang makin sering dibicarakan. Namun, kini ada fenomena baru yang muncul dan menjadi perhatian para profesional HR, yakni resenteeism. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana karyawan tetap hadir dan bekerja, tetapi menyimpan rasa kesal, frustasi, bahkan dendam terhadap pekerjaannya maupun lingkungan kerjanya.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada produktivitas individu, tetapi juga berpengaruh besar terhadap kinerja tim dan keberlangsungan perusahaan. Lantas, apa sebenarnya resenteeism itu, mengapa bisa terjadi, dan bagaimana perusahaan harus menyikapinya?
Resenteeism berasal dari kata resentment (rasa kesal atau dendam) dan presenteeism (kehadiran fisik di kantor meski tidak bekerja secara optimal). Karyawan yang mengalami resenteeism biasanya tetap hadir bekerja, namun menjalankan tugas dengan setengah hati, penuh emosi negatif, dan minim keterlibatan.
Berbeda dengan quiet quitting yang ditandai dengan batasan tegas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, resenteeism lebih berbahaya karena karyawan masih hadir tetapi membawa energi negatif. Hal ini dapat menyebar ke rekan kerja lain, menciptakan suasana kerja yang kurang sehat.
Ada beberapa faktor yang membuat resenteeism semakin sering ditemui di dunia kerja, terutama di era pasca-pandemi:
Jika dibiarkan, resenteeism bisa memberikan dampak besar:
Baca juga: Ditanya “Apa Ada Pertanyaan” Saat Interview? Ini yang Harus Dilakukan
Perusahaan tidak bisa mengabaikan fenomena ini. Ada beberapa langkah strategis yang bisa diambil:
Fenomena resenteeism sebenarnya bisa diantisipasi dengan strategi rekrutmen yang tepat. Inilah mengapa banyak perusahaan kini bekerja sama dengan headhunter atau perusahaan outsourcing.
Sebagai salah satu penyedia layanan headhunter dan perusahaan outsourcing di Indonesia, RecruitFirst Indonesia hadir untuk membantu perusahaan mengelola talenta dengan lebih efektif. Dengan pengalaman dan jaringan yang luas, RecruitFirst mampu menghadirkan kandidat berkualitas dan solusi outsourcing yang sesuai kebutuhan.
Kami memahami bahwa tantangan di dunia kerja modern tidak hanya soal rekrutmen, tetapi juga soal retensi dan engagement karyawan. Dengan strategi yang tepat, resenteeism bisa ditekan, dan perusahaan dapat menjaga produktivitas serta iklim kerja positif.
Resenteeism adalah tren baru di dunia kerja yang muncul akibat akumulasi rasa frustasi, kekecewaan, dan ketidakpuasan karyawan. Fenomena ini dapat berdampak serius pada perusahaan jika tidak segera ditangani.
Dengan komunikasi terbuka, apresiasi yang tulus, peluang pengembangan karier, hingga dukungan eksternal seperti headhunter dan perusahaan outsourcing, perusahaan dapat mencegah resenteeism berkembang lebih jauh.
Jika perusahaan Anda ingin mengantisipasi tantangan ini dengan strategi rekrutmen dan outsourcing yang lebih tepat, hubungi kami di RecruitFirst Indonesia untuk mendapatkan solusi terbaik.