Logo Recruit First White

Resenteeism: Apa Itu dan Mengapa Jadi Tren di Dunia Kerja

You Ask, We Answer
Publish Date: 18 Sep 2025
Last Edited: 18 Sep 2025
Resenteeism: Apa Itu dan Mengapa Jadi Tren di Dunia Kerja

Beberapa tahun terakhir, dunia kerja mengalami banyak perubahan, mulai dari tren quiet quitting hingga burnout yang makin sering dibicarakan. Namun, kini ada fenomena baru yang muncul dan menjadi perhatian para profesional HR, yakni resenteeism. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana karyawan tetap hadir dan bekerja, tetapi menyimpan rasa kesal, frustasi, bahkan dendam terhadap pekerjaannya maupun lingkungan kerjanya.

Fenomena ini tidak hanya berdampak pada produktivitas individu, tetapi juga berpengaruh besar terhadap kinerja tim dan keberlangsungan perusahaan. Lantas, apa sebenarnya resenteeism itu, mengapa bisa terjadi, dan bagaimana perusahaan harus menyikapinya?

Apa Itu Resenteeism?

Resenteeism berasal dari kata resentment (rasa kesal atau dendam) dan presenteeism (kehadiran fisik di kantor meski tidak bekerja secara optimal). Karyawan yang mengalami resenteeism biasanya tetap hadir bekerja, namun menjalankan tugas dengan setengah hati, penuh emosi negatif, dan minim keterlibatan.

Berbeda dengan quiet quitting yang ditandai dengan batasan tegas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, resenteeism lebih berbahaya karena karyawan masih hadir tetapi membawa energi negatif. Hal ini dapat menyebar ke rekan kerja lain, menciptakan suasana kerja yang kurang sehat.

Mengapa Resenteeism Jadi Tren di Dunia Kerja?

Ada beberapa faktor yang membuat resenteeism semakin sering ditemui di dunia kerja, terutama di era pasca-pandemi:

  1. Beban Kerja yang Tidak Seimbang
    Banyak karyawan merasa diberi beban kerja berlebih tanpa kompensasi yang sepadan. Hal ini memicu rasa frustasi dan ketidakpuasan.
  2. Kurangnya Apresiasi dan Pengakuan
    Karyawan yang tidak merasa dihargai cenderung mengalami demotivasi. Resenteeism muncul ketika perasaan ini menumpuk tanpa solusi.
  3. Keterbatasan Mobilitas Karier
    Tidak adanya peluang pengembangan atau promosi membuat karyawan merasa terjebak dalam posisi yang sama terlalu lama.
  4. Ketidakcocokan dengan Budaya Kerja
    Lingkungan kerja yang toksik, komunikasi yang buruk, atau konflik dengan manajemen bisa memicu perasaan negatif yang sulit dihilangkan.
  5. Ketidakjelasan arah perusahaan
    Saat visi dan strategi perusahaan tidak jelas, karyawan kehilangan sense of purpose sehingga mudah merasa jenuh dan kecewa.

Dampak Resenteeism bagi Perusahaan

Jika dibiarkan, resenteeism bisa memberikan dampak besar:

  • Produktivitas menurun karena karyawan bekerja tanpa semangat.
  • Meningkatkan turnover, karena akhirnya karyawan memilih keluar setelah lama memendam rasa kesal.
  • Munculnya atmosfer kerja negatif yang berpengaruh pada karyawan lain.
  • Reputasi perusahaan menurun, terutama bila pengalaman buruk karyawan tersebar luas di media sosial atau forum pekerjaan.

Baca juga: Ditanya “Apa Ada Pertanyaan” Saat Interview? Ini yang Harus Dilakukan

Solusi Mengatasi Resenteeism

Perusahaan tidak bisa mengabaikan fenomena ini. Ada beberapa langkah strategis yang bisa diambil:

  1. Membangun komunikasi terbuka
    Dorong karyawan untuk menyampaikan keluhan atau masukan tanpa takut akan konsekuensi negatif.
  2. Memberikan apresiasi dan penghargaan
    Hal sederhana seperti ucapan terima kasih atau penghargaan kinerja bisa meningkatkan semangat kerja.
  3. Menyediakan jalur karier yang jelas
    Program pengembangan keterampilan dan kesempatan promosi akan membuat karyawan lebih termotivasi.
  4. Menghadirkan lingkungan kerja positif
    Budaya kerja inklusif dan suportif membantu menekan rasa frustrasi yang dapat memicu resenteeism.
  5. Bekerja sama dengan pihak eksternal
    Perusahaan dapat memanfaatkan layanan headhunter maupun perusahaan outsourcing untuk memastikan mendapatkan talenta terbaik sekaligus menjaga keberlanjutan operasional bisnis.

Peran Headhunter dan Outsourcing dalam Mengurangi Resenteeism

Fenomena resenteeism sebenarnya bisa diantisipasi dengan strategi rekrutmen yang tepat. Inilah mengapa banyak perusahaan kini bekerja sama dengan headhunter atau perusahaan outsourcing.

  • Headhunter membantu mencari kandidat yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga cocok dengan budaya kerja perusahaan. Hal ini penting untuk mengurangi risiko ketidakcocokan yang bisa memicu resenteeism.
  • Perusahaan outsourcing dapat menjadi solusi untuk membagi beban kerja, sehingga karyawan internal tidak merasa kewalahan. Misalnya, layanan outsourcing Jakarta yang menyediakan tenaga kerja terampil sesuai kebutuhan industri bisa membantu perusahaan menjaga efisiensi sekaligus meningkatkan kepuasan kerja karyawan.

Mengapa RecruitFirst Indonesia?

Sebagai salah satu penyedia layanan headhunter dan perusahaan outsourcing di Indonesia, RecruitFirst Indonesia hadir untuk membantu perusahaan mengelola talenta dengan lebih efektif. Dengan pengalaman dan jaringan yang luas, RecruitFirst mampu menghadirkan kandidat berkualitas dan solusi outsourcing yang sesuai kebutuhan.

Kami memahami bahwa tantangan di dunia kerja modern tidak hanya soal rekrutmen, tetapi juga soal retensi dan engagement karyawan. Dengan strategi yang tepat, resenteeism bisa ditekan, dan perusahaan dapat menjaga produktivitas serta iklim kerja positif.

Kesimpulan

Resenteeism adalah tren baru di dunia kerja yang muncul akibat akumulasi rasa frustasi, kekecewaan, dan ketidakpuasan karyawan. Fenomena ini dapat berdampak serius pada perusahaan jika tidak segera ditangani.

Dengan komunikasi terbuka, apresiasi yang tulus, peluang pengembangan karier, hingga dukungan eksternal seperti headhunter dan perusahaan outsourcing, perusahaan dapat mencegah resenteeism berkembang lebih jauh.

Jika perusahaan Anda ingin mengantisipasi tantangan ini dengan strategi rekrutmen dan outsourcing yang lebih tepat, hubungi kami di RecruitFirst Indonesia untuk mendapatkan solusi terbaik.

Debby Lim
Author
Debby Lim

As the business leader of RecruitFirst Indonesia, Debby brings over 13 years of industry experience to the team. With a wealth of knowledge across various industries, Debby excels at handling diverse roles and delivering exceptional results.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *