Kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah mengguncang banyak sektor dan industri di seluruh dunia. Tapi, apakah perubahan ini akan benar-benar mempengaruhi industri Human Resource (HR), atau sekadar tren yang akan cepat menghilang?
Dalam pertemuan terbaru di Alila SCBD, RecruitFirst Indonesia dan HRnetRimbun mengundang pemimpin HR dari berbagai sektor untuk menjawab pertanyaan penting: Bagaimana AI dapat memberikan manfaat nyata bagi HR?
Pertemuan tersebut jadi tempat untuk saling bertukar pikiran antara para pemimpin, sekaligus membuka mata untuk menantang asumsi tentang peran AI bagi HR—entah dalam dalam perekrutan, manajemen karyawan, hingga kinerja mereka.
Namun terlepas dari itu semua, jika Anda menganggap AI merupakan produk masa depan. Pertimbangkan kembali—karena acara ini membuktikan bahwa masa depan sudah terjadi sekarang.

Acara dibuka dengan penjelasan mengenai urgensi adopsi teknologi AI dalam industri HR. Dengan AI, proses rekrutmen, manajemen kinerja, dan keterlibatan karyawan menjadi lebih efisien, memungkinkan tim HR untuk lebih fokus pada tugas strategis mereka.
Alasan utama untuk mulai menggunakan AI ini antara lain:
Selanjutnya, diskusi berfokus pada peran AI di Indonesia secara keseluruhan. Dengan aliran investasi yang signifikan ke bidang AI, Indonesia sedang cepat berkembang menjadi pusat inovasi berbasis teknologi.
Berdasarkan data tersebut, bisa dilihat bagaimana peluang besar AI bagi bisnis dan industri HR di Indonesia.
AI yang dirancang untuk HR telah membawa perubahan signifikan dalam cara HR berfungsi. Dengan mengelola tugas-tugas repetitif secara efisien dan menyediakan data untuk keputusan yang lebih cerdas, AI meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam operasi HR.
Berbagai alat AI yang dibuat untuk HR kini mengoptimalkan cara kerja tim HR. Dengan otomatisasi tugas-tugas rutin dan dukungan keputusan berbasis data, alat-alat ini meningkatkan efisiensi serta produktivitas tim HR.
Hirvue merupakan platform digital yang biasanya digunakan saat proses rekrutmen. Dengan Hirevue, perusahaan bisa menganalisis wawancara video, lengkap dengan isyarat verbal dan non-verbal yang ditunjukkan kandidat. Dengan ini, HR bisa punya banyak pertimbangan sebelum melanjutkan kandidat ke proses selanjutnya.
Pymetrics merupakan platform rekrutmen berbasis kecerdasan yang menggunakan permainan neuropsikologi untuk menilai kecocokan kandidat dengan suatu pekerjaan. Teknologi pada Pymetrics mengevaluasi kemampuan kognitif dan emosiona kandidat
Octomate adalah platform solusi manajemen sumber daya manusia (SDM) yang membantu perusahaan mengelola operasional karyawan. Ia bekerja dengan fitur-fitur seperti keamanan blockchain, pembayaran instan, dan akses seluler.
Betterworks adalah platform manajemen kerja berbasis cloud yang membantu perusahaan meningkatkan efektivitas perusahaan dengan membantu menyederhanakan proses manajemen kinerja melalui fitur-fitur penetapan tujuan, percakapan satu lawan satu (1:1), dan survei keterlibatan karyawan.
7taps adalah platform microlearning yang memungkinkan pengguna membuat konten pembelajaran singkat dan interaktif dalam waktu singkat. Platform ini dirancang untuk memberikan pengalaman yang cepat dan efektif, mirip dengan format media sosial seperti Instagram Stories.
Skillsoft adalah platform pembelajaran yang dirancang untuk membantu origanisasi mengembangkan keterampilan karyawan mereka. Platform ini menawarkan berbagai kursus dan materi pembelajaran seperti pengembangan kepemimpinan, keterampilan bisnis, pelatihan untuk karyawan.
Culture Amp adalah platform perangkat lunak yang menyediakan alat untuk mengukur serta meningkatka karyawan di tempat kerja. Platform ini menawarkan fitur seperti survei keterlibatan karyawan dan umpan balik (feedback) untuk menganalisis keterlibatan dan kinerja karyawan melalui analisis data.
15Five adalah platform yang dirancang untuk membantu perusahaan dalam manajemen kinerja dan keterlibatan karyawan. Sesuai namanya, platform ini mengharuskan karyawan untuk menghabiskan 15 menit untuk melaporkan perkembangan mereka dan memberikan umpan balik kepeda manajer. Sebagai gantinya, manajer akan meluangkan 5 menit waktunya untuk memberikan respons atau dukungan.

Terlepas dari begitu banyak hal positif sejak kehadiran AI yang membantu kerja HR dalam perusahaan, tentu timbul perdebatan mengenai dilema etika penggunaan AI. Pertemuan ini turut membahas hal tersebut, khususnya menyoal peran AI dalam memantau gerak karyawan ketika bekerja.
Lewat jajak pendapat yang dilakukan oleh HR AI, terlihat bahwa suara terbagi sama rata, antara mereka yang setuju dan netral terhadap fenomena ini. Berikut adalah hasil jajak pendapat mengenai dilema etika penggunaain AI:

Dari tanggapan yang seimbang ini, tampak adanya kompleksitas penggunaan AI yang etis dalam HR. AI memang memiliki potensi untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas. Namun, perusahaan harus menyeimbangkan inovasi dengan kerahasiaan privasi karyawan. Maka itu, penting untuk menemukan pendekatan harmonis yang memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab dan etis.
Dalam diskusi, keberadaan AI yang jadi anomali juga dibahas—di satu sisi, AI memberikan kemudahan bagi para HR. Namun, di sisi lain, ia juga membawa ancaman tersendiri. AI dapat menyebabkan restrukturisasi atau perampingan SDM karena dianggap lebih efisien mengerjakan tugas-tugas rutin yang sebelumny dilakukan manusia.
Hal ini dapat terlihat pada proses perekrutan, di mana bantuan AI mampu mengurangi waktu hingga 40 persen. Pencapaian ini bisa menimbulkan kekhawatrian bahwa peran manusia yang justru akan dianggap sebagai sebuah ‘beban’ oleh sebagian pihak.
Namun, lewat jajak pendapat terlihat bahwa 43 persen tidak setuju mengenai ancaman restrukrisasi karena keberadaan AI. Berikut adalah hasil jajak pendapatnya:

Dapat dilihat, meskipun muncul pemikiran bahwa keberadaan AI dianggap ancaman untuk beberapa pihak, posisi HR akan tetap memainkan peran penting. Khususnya, di bidang-bidang yang masih membutuhkan penilaian manusia, seperti empati dan pengambilan keputusan jangka panjang.
Penerapan teknologi AI dalam evaluasi kerja bertujuan untuk menyediakan penilaian berbasis data yang dapat mengurangi bias penilaian manusia. Akan tetapi, apakah hasil evaluasi dari AI benar-benar lebih adil daripada penilaian manusia?
Meskipun AI efektif dalam memproses data dalam jumlah besar dengan objektivitas tinggi, AI tidak memiliki pemahaman mendalam tentang konteks, perilaku, dan budaya perusahaan. Karena itu, penilaian manusia tetap penting dalam evaluasi kinerja, mengingat mereka mampu memperhitungkan faktor-faktor yang sering tidak diperhatikan oleh AI.
Pesan utama dari acara diskusi yang dilakukan sangat jelas: AI tidak akan menggantikan posisi para HR di perusahaan. Namun, jika dimanfaatkan dengan baik, AI dapat membawa kesuksesan lebih dibandingkan mereka yang tidak menggunakan.
Karena itu, penting untuk dicatat bahwa mereka yang menggunakan AI tentu akan lebih unggul, sementara yang tidak akan tertinggal.

Jika Anda bingung harus mulai dari mana, silakan unduh cheatsheet AI kami. Di sana, Anda akan menemukan pemahaman serta tautan ke tools dan prompt AI yang bisa membantu tugas HR Anda.
Jika Anda ingin memperluas tim Anda dengan talenta berkualitas, RecruitFirst Indonesia adalah pilihan yang tepat untuk membantu menemukan kandidat yang terbaik untuk memajukan bisnis Anda. Hubungi kami hari ini untuk solusi rekrutmen yang sesuai dengan kebutuhan Anda.